Ramadan Pertamaku di Negeri Tirai Bambu: Di Bawah Langit Harbin yang Dingin, Aku Menemukan Kehangatan Ramadan

Ramadan Pertamaku di Negeri Tirai Bambu

Di Bawah Langit Harbin yang Dingin, Aku Menemukan Kehangatan Ramadan


Halo semuanya, perkenalkan aku 吉塔 (Jí Tǎ), nama Chinaku. Aku adalah mahasiswi baru di Northeast Forestry University yang berlokasi di Kota Harbin, Tiongkok. Alhamdulillah, aku diterima di kampus ini melalui Beasiswa CSC (Chinese Scholarship Council) atau Chinese Government Scholarship (CGS) yaitu beasiswa penuh dari pemerintah Tiongkok untuk studi S1/S2/S3 bersama dua teman seangkatanku dari Indonesia.



Dulu aku tidak pernah membayangkan bisa sekolah sampai ke negeri tirai bambu ini. Aku hanya memiliki mimpi sederhana yaitu ingin belajar di luar negeri. Mimpi itu selalu kutulis dalam daftar goals setiap tahunnya di buku harianku. Aku juga sangat ingin melihat bunga sakura berwarna merah muda yang indah saat musim semi tiba. Dan ternyata jalan takdir membawaku ke kota terdingin di China dan di Asia Timur, yaitu Harbin. Kota yang begitu indah, nyaman, dan penuh kejutan. 



Kota Harbin saat musim dingin 2026


Kota Harbin adalah ibu kota provinsi Heilongjiang, terletak di bagian timur laut Tiongkok, dekat perbatasan Rusia. Kota ini dikenal luas sebagai "Kota Es", di musim dingin Harbin bahkan bisa mencapai -38°C. Harbin banyak di juluki sebagai Kota Es, Moscow Timur, Paris Timur karena arsitekturnya sangat kental gaya Rusia dan Eropa Timur, warisan sejarah pembangunannya oleh insinyur Rusia abad ke-19. Jadi jangan heran kalau kamu ke Harbin, bangunan dan suasana di Harbin terasa berbeda dari kota-kota lain di Tiongkok, bahkan terkadang terasa seperti tidak sedang berada di Tiongkok. Harbin juga adalah Tuan rumah es terbesar di dunia yang biasa disebut Festival Es dan Salju Internasional (Harbin Ice and Snow World ) setiap tahun diadakan mulai bulan Desember hingga Februari. Harbin juga menjadi pusat ekonomi, budaya, dan transportasi utama wilayah timur laut Tiongkok, serta pintu gerbang perdagangan ke Rusia dan Eropa.


Tak terasa, sudah delapan bulan aku tinggal di kota ini. Suasana belajar di Harbin sangat nyaman. Asrama, ruang kelas, dan perpustakaannya memiliki fasilitas yang baik, dan kampusku dipenuhi ruang hijau yang membuatku senang berjalan-jalan saat penat belajar. Selain berkeliling kampus, aku juga senang mengeksplor sudut-sudut Kota Harbin.


Sebagai muslimah berhijab, awalnya aku sangat takut pergi ke Tiongkok saat aku tahu aku diterima kuliah di Tiongkok. Saat masih di Indonesia, banyak orang berkata bahwa Tiongkok tidak ramah terhadap muslim. Ada yang bilang jilbab bisa ditarik orang, atau cerita-cerita buruk lainnya. Namun setelah datang ke sini, aku justru merasa sangat lega dan bersyukur. Tiongkok tidak seperti yang banyak diceritakan orang. Aku tetap bisa memakai hijab dengan bebas tanpa ada yang mendiskriminasi atau mengganggu. Memang terkadang aku sering diperhatikan orang-orang karena masih sedikit perempuan berhijab di sini, tetapi sejauh ini aku merasa aman dan nyaman.


Tentu kehidupan di sini juga membutuhkan banyak penyesuaian, terutama soal jadwal sholat. Aku pernah mengalami waktu Subuh pukul 05.16 CST, lalu beberapa bulan kemudian berubah menjadi pukul 02.19 dini hari. Benar-benar seperti sekalian tahajud saja jika subuhnya di jam 2, hehe. 


Cukup struggle, apalagi karena di sini tidak ada suara adzan seperti di Indonesia. Jadi aku harus selalu memasang alarm dan rutin mengecek jadwal sholat setiap hari.


Alhamdulillah, di Harbin terdapat cukup banyak masjid, sekitar delapan masjid dengan bentuk bangunan yang unik. Masjid yang paling dekat dengan kampusku adalah Xiangfang Mosque. Biasanya mahasiswa laki-laki shalat Jumat di sana.


Awal tinggal di sini aku sempat sangat homesick, terutama karena makanan. Selain keluarga, makanan Indonesia memang jadi hal yang paling dirindukan. Aku dulu sangat pemilih soal makanan, tetapi setelah mulai mengeksplor kota, menemukan toko halal, jajanan halal, serta online shop yang menjual bumbu dan makanan Indonesia, rasa rinduku perlahan berkurang.


Untuk makanan halal sebenarnya cukup mudah ditemukan. Banyak restoran halal dengan tulisan 清真 (Qīngzhēn) yang biasanya berwarna hijau atau biru di bagian depannya. Namun demi berhemat, aku juga sering memasak sendiri. Namanya anak rantau, kadang kondisi ekonomi naik turun, jadi harus pintar mengatur pengeluaran. Selain itu, memasak sendiri membuatku lebih tenang karena bisa memastikan makanan yang dikonsumsi halal dan sesuai selera. Tapi jangan berpikir kalau aku jago masak yaa.. skill memasakku hanya cukup untuk survival alias bertahan hidup saja guys hehe. Oh iya, yang membuatku terkejut juga adalah harga sayur, buah, dan bahan makanan di sini ternyata cukup terjangkau. Bahkan banyak buah dan sayuran yang segar dengan harga murah.


Walaupun begitu, sejauh apa pun kita pergi dan seindah apa pun tempat yang kita datangi, tetap saja home sweet home selalu menjadi pemenangnya. Rumah akan selalu menjadi tempat pulang ternyaman. Benar ga?


Ramadan Pertama di Tiongkok

Ramadan pertamaku di Tiongkok berlangsung di akhir musim dingin yaitu bulan Februari hingga Maret 2026. Sebenarnya waktu puasanya cukup nyaman karena tidak terlalu panjang. Saat itu Subuh sekitar pukul 04.58 CST dan Maghrib pukul 17.08 CST. Namun dinginnya Harbin menjadi tantangan tersendiri. Suhu saat Ramadan berkisar antara -10 hingga -18 derajat Celsius. Cuaca sedingin itu sering membuat badan terasa ingin makan terus. Bahkan saat berangkat tarawih, kami harus memakai pakaian sangat tebal atau minimal heattech.

Meski begitu, aku sangat bersyukur karena masih bisa merasakan hangatnya suasana Ramadan di sini. Aku tetap bisa shalat tarawih berjamaah, berbuka puasa bersama muslim di Harbin, dan bertemu banyak saudara muslim dari berbagai negara. Dulu aku sering mendengar cerita bahwa mahasiswa atau pekerja di luar negeri ingin segera pulang ke Indonesia karena saking rindunya mendengar suara adzan. Alhamdulillah, di sini aku masih bisa mendengar suara Adzan walaupun di masjid saja.


Selain tarawih, kami juga sering mengikuti buka bersama di masjid. Suasananya hangat dan penuh kebersamaan. Biasanya sebelum berbuka ada ceramah dan dzikir bersama. Tapi jangan bayangkan ceramahnya memakai bahasa Arab atau Inggris ya, teman-teman. Ceramahnya full bahasa Mandarin, sedangkan aku sendiri masih belajar Mandarin, jadi banyak yang belum kupahami, hehe. Aku cuma paham saat mendengar kata 真主 (Zhēnzhǔ) yang berarti Allah SWT.


Selain melaksanakan tarawih di Masjid Xiangfang, kami juga sempat mencoba berbuka puasa dan tarawih bersama di Masjid Alabo. Masjid ini memiliki bangunan yang jauh lebih besar dan dikenal sebagai salah satu masjid terbesar di Kota Harbin. Berdiri pada tahun 1935, suasananya cukup ramai dan hangat, terutama saat Ramadhan tiba. Di sekitar masjid terdapat banyak restoran halal dan toko makanan muslim, sehingga kawasan ini menjadi salah satu pusat berkumpulnya komunitas muslim di Harbin.

Masjid Alabo (salah satu Masjid terbesar di tengah kota) Harbin 2026

Ramadan di Tiongkok ternyata tetap membuatku bisa merasakan suasana Ramadhan yang hangat. Aku sangat suka suasana setelah pulang tarawih. Rasanya bahagia melihat ternyata muslim di sini cukup banyak dan semuanya ramah. Hal yang paling berkesan bagiku adalah malam Lailatul Qadar. Di sini, malam ke-27 Ramadhan menjadi malam yang sangat ramai. Masjid penuh hingga ke halaman depan. Bahkan sejak pukul empat sore orang-orang sudah berdatangan. Acara dimulai dengan ceramah dan dzikir bersama, lalu berbuka puasa bersama, salat Maghrib berjamaah, dilanjutkan Isya dan tarawih berjamaah.


Ramadhanku juga terasa lebih bermakna karena adanya kegiatan dari Lintas Komunitas Muslim Indonesia–Tiongkok (LKMIT) yang mengadakan Pesantren Ramadhan secara online. Jadi sambil menunggu berbuka atau setelah tarawih, kami bisa mengikuti kajian, mengaji bersama, kelas Mandarin, dan berbagai kegiatan bermanfaat lainnya.


Selain itu, Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok Cabang Harbin (PPIT Harbin) juga mengadakan buka bersama yang menjadi momen hangat bagi kami untuk berkumpul dengan sesama orang Indonesia di Harbin. Rasanya bahagia sekali melihat banyak mahasiswa Indonesia dari berbagai kampus bisa berkumpul bersama di negeri orang. Saat itu, ada sekitar 30–50 mahasiswa Indonesia di Harbin.


Dokumentasi Buka Bersama PPIT Harbin


Idulfitri di Negeri Orang

Ada hal yang cukup berbeda dibandingkan saat Idulfitri di Indonesia. Kalau di kampung halamanku di Garut, shalat Ied biasanya dimulai sekitar pukul 07.00 pagi dan selesai sekitar pukul 08.00 WIB. Namun di Harbin, shalat Ied baru dimulai pukul 09.30 CST dan selesai sekitar pukul 11.00 CST siang. Aku bahkan sempat datang terlalu pagi ke masjid. Saat pukul tujuh pagi, masjid masih cukup sepi dan hanya ada beberapa orang. Namun perlahan jamaah mulai berdatangan hingga lantai dua, lantai tiga, bahkan halaman masjid penuh. Masjid Xiangfang sendiri memiliki tiga lantai: lantai pertama untuk tempat wudhu, lantai kedua untuk jamaah laki-laki, dan lantai ketiga untuk perempuan.


Saat pukul tujuh pagi, masjid masih sepi dan hanya ada beberapa orang


Hal lain yang berbeda adalah tradisi berpakaian saat Lebaran. Orang lokal di sini biasanya hanya memakai pakaian terbaik yang mereka punya, tidak seperti tradisi di Indonesia yang identik dengan baju baru. Sementara mahasiswa muslim dari negara lain tetap memakai pakaian baru seperti budaya kita di Indonesia.


Setelah shalat Ied selesai, suasana di luar masjid sangat ramai. Banyak pedagang muslim berjualan makanan, dan ada juga beberapa orang Arab yang memborong dagangan lalu membagikannya gratis kepada jamaah yang baru keluar masjid. Setelah itu, kami makan bersama di restoran halal dekat masjid. Tapi sayangnya… tidak ada opor, ketupat, ataupun sate, huhuhu, serta hari Idulfitri di sini bukan hari libur. Jadi setelah shalat Ied pagi, siangnya aku langsung kembali kuliah seperti biasa. 


Suasana Idulfitri Ramadhan 2026 di Mesjid Xiangfang, Harbin 


Itulah cerita Ramadan pertamaku di Tiongkok. Negeri ini benar-benar penuh kejutan. Ada pepatah yang mengatakan, “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.” Setelah tinggal di sini, aku mulai memahami maknanya. Banyak hal baik yang bisa dipelajari di negeri ini: dari kedisiplinan masyarakatnya, semangat belajar, hingga kebiasaan hidup mereka.


Dan ternyata benar kata seniorku:


Tiongkok adalah Negeri Tirai Bambu. Jika kamu tidak menyingkap tirainya, maka kamu tidak akan pernah melihat keindahan di dalamnya.” ✨


_______________________________________________End________________________________________________


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lirik Lagu Sahabat Perjalanan

Lirik Lagu Hawaiian Forester

What is Guano Fertilizer ?